"Kenapa kamu menangis dalam tidur?"
— Tanpa Sadar aku menghantui diri sendiri. Menangis dan kadang tak sengaja berteriak dalam tidur karena memendam sedih.
"Boleh kah kubertanya sedikit supaya kamu bercerita lebih? Mungkin bercerita bisa melegakanmu?"
— Hal baru. Belum ada yang pernah menawarkan bantuan untuk tidurku. Sebelumnya, aku hanya dikira gemar tidur susah bangun pagi, mungkin disangka pemalas. Tolong bantu aku.
"Sudah berlangsung berapa lama gangguan tidurmu?"
— Mungkin sekitar 6 tahun. Hm, sebab kamu bertanya, aku baru sadar ternyata seperempat hidupku kuhabiskan dengan masalah gangguan tidur. Tapi perlu kamu ketahui, tidak setiap malam aku menangis atau berteriak. Tidak perlu dilebih-lebihkan gangguan tidurku. Dulu pernah demikian, sekarang sudah tidak lagi.
" Berarti tidak setiap malam mimpimu buruk?"
— Tidak. Yang jelas aku selalu bersyukur setiap terbangun dari tidur tanpa mimpi. Mimpi-mimpi yang datang selalu berkaitan dengan hal buruk yang lalu; tentang sedih, marah, kecewa, dan ketakutan. Sekarang ini, tidurku jadi menangis atau berteriak hanya ketika aku kelewat lelah. Terakhir terjadi saat aku dalam penyesuaian memiliki bayi baru lahir. Sisanya aku tampak tidur seperti biasa namun bukan berarti mimpiku baik-baik saja.
"Apabila boleh tau, apakah 'hal buruk' yang menghantui mimpimu selalu sama?"
— Tidak, beragam rupanya. Datang dari orang dan waktu yang beragam. Kesamaannya adalah seluruhya datang dari memori yang tidak ingin kuingat; hal-hal yang tidak pernah kuharapkan menimpa. Semua yang ingin kuanggap lalu dan lupa, namun justru terus diputar ulang dalam mimpi. Melelahkan.
"Adakah yang ingin kamu lakukan setelah terbangun dari mimpi buruk?"
— Kembali tidur, aku butuh hakku beristirahat! Aku lelah. Sesekali aku menghibur diri dengan memotong atau mewarnai rambut, membuatku serasa menaruh hal baru pada diri. Jika ada tenaga lebih, aku juga melampiaskan keresahanku ke dalam tulisan. Kurumuskan segala hal ideal yang seharusnya terjadi, serasa merevisi hidup.
"Potongan rambutmu bagus, semoga membuatmu lega. Berniat menceritakan 'hal ideal' yang kamu maksud?"
— Terima kasih! Apabila ada waktu, ingin kurapikan rambutku.
"Hal ideal' yang kumaksud berkaitan dengan keresahanku seputar perempuan dan tubuhnya. Tubuhku juga! Idealku adalah kebebasan perempuan menyampaikan bagaimana seharusnya tubuh kami diperlakukan, dipandang, dan dibicarakan. Aku resah ketika kami kehilangan kebebasan itu. Bila tidak kuungkapkan keresahanku, bisa-bisa mimpiku makin menggila!
"Tidakkah kamu takut orang-orang malah menanggapi tulisanmu sebagai barang porno karena 'membicarakan tubuh wanita' konon masih dianggap tabu?"
— Ya, aku hanya akan memaklumi bila ada yang menganggap tulisanku saru. Mereka yang melihatku dengan cara demikian mungkin dilarang orang tuanya untuk membicarakan tubuhnya sendiri sehingga ada ketakutan dalam diri mereka, sisanya adalah penonton bokep sehingga apa-apa tentang tubuh perempuan dianggap barang porno.
Mereka yang menganggapku tabu entah 'belum' atau memang 'enggan' memahami keresahanku terhadap tubuh perempuan yang umum juga dirasakah oleh perempuan-perempuan lain; aku bercerita bagaimana kami ingin dicintai dan mencintai, ketika perempuan resah akan bentuk tubuhnya, dan tentang perempuan yang ketakutan dijadikan objek seksual. Sedangkan konotasi tabu dan porno aksi adalah mereka yang sadar sedang menciptakan entah tulisan, foto syur, atau video panas yang bersegmen orang-orang berkebutuhan hiburan khusus di selangkangan. Berbeda bukan?
"Betul, aku bisa memahamimu. Ekspresi dan keresahanmu. Kuharap dengan bercerita, kamu tidak lagi merasa sendirian. Bagaimana perasaanmu?"
— Lega dan cukup. Terima kasih banyak. Semoga hidupmu selalu aman dalam lindungan Tuhan.
September, 2022
Percakapan fiksi penuh imajinasi. Seandanya seandainya