28.11.24

Arsip 2023: Praktik Lintrik Banyuwangi


    Menilik diri pada akhir tahun dua ribu dua puluh satu, rupanya aku menyerupai artis-artis Barat yang menggadaikan diri ke puja-puji kultus sesat, tapi bedanya adalah 1) aku bukan artis dan 2) aku tidak memuja melainkan mencintai. Demi menghormati keputusan orang yang kucintai, aku sempat rela mengubur hari-hari bercerita tentang tubuh perempuan, tentang keresahanku sebagai wanita yang bisa saja dirasakan perempuan lain, tentang kaum kami yang masih sering dipanggil "betina" sebagai kalimat degradasi sedangkan kata "jantan" memiliki konotasi yang berani, gagah, rupawan. Pada waktu itu pikirku, jika tidak kuiyakan maka aku bisa jadi patah hati dan aku tidak mau patah hati. Pun, kukira tanpa menggambar dan/atau bercerita tentang tubuh perempuan aku masih bisa gambar-tulis hal lain, cerita anak-anak misalnya -- Karena tahun 2020 lalu aku sempat belajar membuat zine dan salah satu yang kutulis adalah Lolo Kelomang yang menceritakan tentang Kelomang pemakan bawang.
    Satu-dua tahun berjalan rupanya aku berhenti. Tidak ada cerita ataupun tulisan. Aku hanya merasa terkungkung dengan banyak pikiran liar yang didiamkan terlalu lama sehingga berpotensi menjadi pikiran jahat. Aku mendapatkan cinta yang kukejar, tapi rasanya aku menggadaikan kewarasan.
    Sehingga di tahun 2023 lalu aku merasa harus menghentikan keterpurukanku, namun tanganku kaku dan aku merasa malu. Aku tidak bisa mulai lagi menggambar karena aku merasa pernah membunuh sisiku yang ekspresif ini, untuk memulainya kembali serasa harus memulai ritual pemanggilan arwah yang mustahil, mengerikan, dan penuh resiko. Mustahil karena tanganku sudah kaku, mengerikan karena kutakut berhenti dicintai kekasihku, dan beresiko semakin kehilangan diri jika merasa gagal bercerita. Padahal, sekali lagi, aku bukan artis. Ternyata "hidup dari karya" bukan melulu soal artis yang menghasilkan uang dari karya tapi bisa juga hidup sebagai manusia biasa yang tidak punya cara lain untuk melegakan diri selain dari gambar-tulis.
    Sebab aku malu terhadap jemariku dan kepalaku tidak mampu mencerna hal-hal baru: maka aku mulai dari masalalu dengan menuntaskan cerita tentang gadis bernama Matahari yang sudah kutulis sejak 2020 lalu tapi tidak pernah selesai. Perempuan yang tadinya terjebak dalam cerpenku telah bisa melenggak luas dalam panel gambar berparagraf, digambarkan oleh Vito yang berbaik hati membantu meringankan luka gambarku. Setidaknya aku sudah melepaskan satu hutangku kepada diri sendiri.

No comments:

Post a Comment