Pertengahan tahun lalu aku mencoba menulis sebuah cerpen dengan judul "Gadis Matahari", tapi berhenti di tengah jalan. Sebuah cerpen yang berisi percakapan antara seorang perempuan kebingungan dan dukun bernama Ki Jambrong. Perempuan tersebut bernama Matahari, ia datang dengan cinta bertepuk sebelah tangan. Matahari meminta Ki Jambrong untuk praktik Lintrik Banyuwangi, sebuah ilmu sihir cinta yang membutuhkan sehelai rambut si sasaran Lintrik sebagai bahan bakar sihirnya.
Perkara kepelikan Ki Jambrong disebabkan Matahari yang ngotot untuk dilayani Lintrik walau ia datang dengan tidak membawa rambut laki-laki yang dicintainya, melainkan kunci sepeda motor. Laki-laki yang digilai Matahari menolak ketika Matahari memohon peluk dari laki-laki itu walau sebentar saja. Sebab kesal modusnya gagal, maka Matahari mengamuk dan berusaha merebut apapun yang bisa ia rebut. Jadilah Matahari mendatangi Ki Jambrong dengan membawa kunci motor. Ki Jambrong pun kebingungan, apakah mungkin kunci motor bisa menggantikan rambut dalam praktik Lintrik Banyuwangi? Jika Ki Jambrong gagal, tentu ia khawatir akan reputasinya di jagad perdukunan. Tapi jika berhasil, Matahari berjanji akan transfer ke rekening Ki Jambrong dengan nominal angka yang membawa untung, dua kali tujuh deret angka tujuh dibayarkan di bulan satu dan bulan enam. Ki Jambrong juga bisa sewaktu-waktu ambil motor si sasaran Lintrik ̶̵ karena toh sudah punya kuncinya.
Cerpen "Gadis Matahari" tidak selesai. Ceritanya berhenti kutulis di masa tapa Ki Jambrong. Mungkin Ki Jambrong sedang bertapa lalu bertemu Jin Cantik di Alas Purwo kemudian menikah secara ghaib sehingga Ki Jambrong sudah tidak lagi memikirkan hutang Lintriknya pada Matahari. Setelah hilangnya Ki Jambrong dari cerpenku, Matahari pun ikut hilang karena ternyata ia tidak butuh-butuh amat praktek Lintrik. Sebenarnya yang dibutuhkan Matahari adalah Lingga untuk Yoninya, sebagaimana dia ambil kunci untuk dimasukkan ke lubang kunci. Begitulah aku kehilangan dua tokoh utama dari cerpenku, keduanya pergi begitu saja dari alur cerita.
Pertengahan tahun lalu juga aku sempat kesusahan menulis zine atau sekedar menggambar komik panel. Alasanku sangat aneh dan sepele ̶̵ setiap kali mulai menggambar, tiba-tiba aku terpikir "Aku ngga mau pasanganku berbahasa lo-gue ke aku". Namanya juga perasaan dan pikiran, tidak selamanya bisa diatur walau milik sendiri. Sampai ada kalanya aku kehabisan baterai handphone dan kebosanan lalu menggambar enam panel komik di selembar tissue, selesai sudah puasa menggambarku.
Ada saja yang membuat tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Tanpa sengaja melintasi hal yang membuat terlena, sebagaimana Matahari berhenti mengejar laki-laki karena terlena praktik Lintrik Banyuwangi, Ki Jambrong yang tidak menuntaskan tapa setelah terlena rayuan Jin Cantik Alas Purwo, dan aku yang terlena karena merasa lebih mudah untuk tidak menyelesaikan cerpen, zine, atau komik panel. Tanpa sengaja aku melintasi zona malas, sempat terlena tapi sudah sadarkan diri.
Tulisan "Tanpa Sengaja Melintas Lalu Terlena" adalah essay pengakuan dosa. Aku mengakui pernah tidak tuntas dalam berkarya dan mudah kehilangan kemauan berkarya. Bukankah melalui pengakuan dosa kita berharap pengampunan Tuhan dan pembenaran manusia? Sebab merasa sudah terlalu lama tidak produktif, aku menulis essay pengakuan dosa supaya bisa lapang dada menerima masa-masa pernah terlena. Pengakuan dosa tidak ada gunanya jika dosa yang dilakukan tetap diterus-teruskan, semoga setelah essay ini aku bisa memberi pembenaran untuk diri sendiri.


No comments:
Post a Comment