19.5.15

Kata-kata (1)

    Dengan kata-kata aku bisa tau kau masih ada. Di sana, jauh. Hanya dengan kata-kata aku bisa tau isi hatimu yang ikut kau bawa pergi. Seandainya saja hanya ragamu yang pergi dan aku tetap bisa bercinta dengan hatimu. Seandainya pula kita bisa bercinta di dalam sebuah alat teleportasi.
    Nyatanya manusia memang bersua cinta melalui kata-kata, tak peduli berapa jarak yang menyela. Ternyata rindu bisa membuat nyeri. Kita tak lagi hanya bersua cinta, bahkan kita bercinta dengan kata-kata. Karena hanya melalui kata-kata saja kita mampu bercinta! Sungguh, canduku adalah ketika ujung jari kita bersentuhan, dan kini aku nyeri merindu seujung jari.
    Percayakah kau dengan kata-kataku? Ya.
    Bagaimana bila aku tidak benar-benar merindu? Tidak mungkin.
    Mungkinkah pergumulan kata-kata kita hanyalah kenikmatan yang kubuat-buat? Tentu tidak.
    Karena hanya dengan kata-kata aku masih bisa percaya dan yakin kau juga percaya. Entah bagaimana denganmu. Melalui kata-kata aku bisa mengucap rindu. Tapi entah apakah kau percaya kata rindu, tidak kah?
    Pernah kau bilang, kata-kata bisa jadi hanya kata-kata.
    Lalu bagaimana dengan kata-kata kita yang saat ini sedang bergumul dalam dimensi paragraf? Kata rindu yang bisa membuat candu hingga tubuhku begitu nyeri rasanya (tapi kunikmati rasa nyerinya yang ternyata cukup unik), tidak nyatakah?
    Mungkin selama ini aku hanya berhalusinasi dan melebihkan kata-kata.
    Atau kekuatan kata-kata memang nyata adanya.

No comments:

Post a Comment