21.5.15

Kata-kata (2)

- Bagaimana wujud kata-kata?
• Kata-kata tidak berwujud.
- Bohong! Mereka pasti berwujud.
• Mengapa kau begitu yakin?
- Karena mereka bisa menggelitik hingga kau tertawa.
• Siapa yang benar-benar menggelitik? Apakah kata-katanya atau manusia yang membuat gurauan?
- Aku tidak mengerti.
• Apa yang tidak kau mengerti?
- Mengapa hanya dengan berucap kata, manusia bisa mempengaruhi keadaan fisik manusia lain?
• Seperti gurauan yang menggelitik?
- Ya. Dan pujian yang membuat jantung berdebar.
• Karena mereka memiliki kekuatan.
- Aku yakin mereka pasti berwujud. 
• Manusia lah yang berwujud, bukan kata-katanya!
- Kau bilang kata-kata memiliki kekuatan. Kekuatan pasti berpartikel, dan partikel pasti membentuk wujud!
• Baiklah, menurutku kata-kata berwujud pil.
- Bagaimana bisa?
• Konon Tuhan ahli dalam segalanya. Ia pasti juga ahli farmasi.
- Alasanmu aneh.
• Pil bisa diisi obat apapun. Anti depresan, anti inflamasi, pemicu reaksi tubuh, bahkan racun, bisa pula zat adiktif yang membuatmu ketergantungan.
- Ya. Aku pernah ketergantungan kata-kata.
• Kata apa?
- Bukan apa tapi siapa.
• Ketika kau jauh dari kekasihmu?
- Ya. Karena ketika kami disela jarak hanya melalui kata-kata kami masih bisa bercinta.
• Seperti apa bercinta melalui kata-kata?
- Seperti menciptakan semesta yang belum pernah ada. Kau hanya bisa berimajinasi tentang lekuk tubuh tanpa bisa menyentuhnya.
• Lalu apa yang membuat ketergantungan? Rasa nikmatnya?
- Bukan. Rasa menghadirkan keberadaan seseorang. Ketika kata-kata ditelan jarak, seberapapun kau membelalakkan mata, yang akan kau dapat hanya mata memerah karena debu hingga matamu tak lagi bisa membantumu untuk menghadirkan keberadaannya.
• Lalu kau menjadi tergantung dan selalu menunggu kata-katanya untuk meyakinkan dirimu bahwa ia masih ingin bercinta denganmu?
- Benar. Sakit sekali rasanya. Tahu kah kau seberapa sakitnya?
• Mungkin. Aku bahkan sakit karena kata yang belum pernah kudengar.
- Apa itu?
• Kata cinta darimu.
.
.
.
• Tapi kau masih menanti kata lain dari pria yang entah kau paham kehadirannya.

No comments:

Post a Comment