24.7.15

Kamar Karma


  Kamar tidak hanya sekedar ruang karena ia merupakan wadah manusia menjadi liar semaunya, mengijinkan telanjang sebulat-bulatnya, hingga menangis sekering-keringnya mata. Kamar adalah sebuah wadah untuk bebas bercerita tanpa batas karena tidak ada aturan yang jelas dalam kamar.
     Tiga perempuan terjebak di dalam kamar masing-masing karena alasan yang berbeda-beda dengan satu kesamaan, yaitu mereka tenggelam dalam wahana tanpa batas. Ketiga perempuan ini juga tak saling paham satu sama lain, tapi mereka paham rasa tidak memiliki. Di dalam kamarnya mereka berimajinasi rasa memiliki yang tak didapatkan di luar kamar.

1.     Perempuan Pertama adalah ia yang senang bila orang melihatnya tertawa. Perempuan Pertama adalah seorang gemar berteater yang juga gemar memperhatikan mimik wajah orang-orang di sekitarnya. Baginya mimik wajah adalah kitab suci ilmu seni peran, maka ia menjaga untuk tidak membasahi dan menekuk kitab itu. Perempuan Pertama menjauhkan wajah-wajah manusia dari tangis dan wajah bersimpati. Ia selalu siap menguapkan segala air mata dan tidak sudi berbagi kisah sedih dengan orang lain karena ia tidak ingin di hadapannya ada mimik wajah yang ditekuk sebagai wujud simpati.
        Sepulangnya dari kehidupan ia beristirahat di dalam kamar dan telanjang setengah bulat atau sebulat-bulatnya. Kamar tidak akan menangis, bersimpati, apalagi menertawakan apapun yang keluar dari mulut Perempuan Pertama. Maka hanya kepada kamar lah Perempuan Pertama menumpahkan air mata dan isi perutnya. Setiap malam hingga subuh ia meluangkan waktu untuk bercerita kepada kamar, baik tawa atau susah. Baginya, kamar adalah sahabat yang sudah lama hilang.
        Pada suatu hari, Perempuan Pertama sadar bahwa dunia di luar kamar merupakan batas kebebasannya, hanya di dalam kamar ia bisa bercerita tanpa batas. Wahana cerita tanpa batas membawanya ke puncak kepuasan yang mengaliri sungai tubuhnya secara aneh namun nikmat. Ia terus bercerita hingga subuh sudah menerbitkan matahari untuk ketiga kalinya. Di hari ketiga ia benar-benar telanjang bulat karena tidak ingin bajunya tergenang di air mata dan muntahan yang menurutnya merupakan bagian dari seni bercerita. Air mata dan sedikit muntahan keluar begitu saja bersama kisah yang diceritakan. Ia terus membiarkan diri berenang-renang dalam air mata dan muntahan sendiri sambil terus bercerita seperti tampil di atas panggung teater. Dalam bayangannya, ia sedang mementaskan kisah autobiografi yang belum pernah disinggung sebelumnya.
        Sudah dua puluh satu hari Perempuan Pertama belum keluar kamar. Konon akalnya sudah mati dan hanya tinggal menunggu tubuhnya ikut mati, padahal di dalam kamar ia sedang tertawa terbahak-bahak sambil menampilkan parodi kisah kematian laki-lakinya yang tak sengaja mati setelah dipukul dengan stik golf karena ada pesan asing tapi mesra dalam ponselnya.

2.     Perempuan Kedua sudah lama memutuskan untuk tidak lagi keluar dari kamar. Bersama Kamar ia bertanding permainan Menjadi Tuhan. Aturan permainannya cukup mudah yaitu harus memiliki imajinasi dan paham arti hidup bahagia. Mereka terus bermain hingga pulas dan bangun untuk melanjutkan permainan.
        Menurut pengakuan Perempuan Kedua, Kamar lah yang mengajarkannya permainan ini ketika Kamar mulai bosan melihat Perempuan Kedua menangis setiap malam. Pada suatu malam, sang Kamar memberitahunya bahwa di dalam kamar semua orang bisa bebas berimajinasi dan berfantasi tanpa batas, maka apa salahnya bermain Menjadi Tuhan? Siapa tahu kita lebih ahli dalam mengarang takdir daripada Tuhan. 
       Takdir yang dipilih adalah datangnya seorang pria bisu tuli yang menanam benih bunga matahari di rongga mata Perempuan Kedua. Ia masih tidak bermata, namun kini ada dua bunga matahari yang keluar dari rongga matanya. Entah akan tampak aneh atau malah menjijikan, tapi yang ia tahu bunga matahari berbentuk indah dan matahari sendiri adalah gumpalan cahaya yang menuntun mata pada keindahan. Dalam imajinasinya, bunga itu tumbuh subur karena dirawat, pun kecantikannya digilai oleh pria bisu tuli yang jatuh cinta padanya. Pria bisu tuli itu seakan hidup hanya untuk menggilai Perempuan Kedua, menghidupi Perempuan Kedua serta bunga mataharinya, dan sebagai teman bercinta yang paham mencintai.
        Hanya saja tidak pernah ada bunga matahari yang benar-benar tumbuh dari kelopak Perempuan Kedua. Tidak ada pula pria yang menumbuhkan bunga matahari untuknya. Ia hanya seorang buta berumur 39 yang tidak diinginkan lelaki manapun.
        "Saya sudah mengenalkannya pada banyak pemuka agama dan semuanya mau dengan anak saya. Ya, anak saya memang cantik tapi sayangnya buta dan tidak pandai bergaul. Semua pemuka agama yang datang ingin menjadikannya istri kedua, ketiga, malah pernah ketujuh. Tidak ada lamaran yang diterima, malah membuatnya takut. Padahal menurut saya pemuka agama adalah yang terbaik untuknya. Anak saya masih bersikeras menjadi istri satu-satunya, tidak sadar diri kalau dia cacat dan sudah perawan tua. Hingga akhirnya ia menolak keluar kamar dan berhenti bicara. Jika ada suara yang keluar dari mulutnya adalah tangis, tawa, dan kadang desah-desah yang meresahkan. terus saja begitu, berulang dengan urutan yang sama. Mengaku saja anda masih bujang, toh anak saya buta, tidak akan sadar kehadiran istri-istri anda yang lain selama mereka tidak bersuara." penjelasan ibunya kepada pemuka agama ke-sembilan yang datang untuk melamar dengan iming-iming teknik penyembuhan alternatif.

3.    Perempuan Ketiga sudah menjalin hubungan dengan kekasihnya sejak 15 tahun lalu. Kisah cintanya dimulai ketika mereka masih terlalu muda di waktu sama-sama belum mampu memikirkan masa depan. Lima belas tahun sudah membuat terlalu banyak cerita di antara keduanya, terlalu banyak kebiasaan yang disaksikan satu sama lain, bahkan buang air pun bukan hal memalukan.
         Kini Perempuan Ketiga dan kekasihnya sedang menghidupi masa depan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Rupanya mereka tumbuh dengan banyak perbedaan. Selera musik yang berbeda, aturan yang berbeda, pergaulan yang berbeda, pola pikir yang berbeda, bahkan kota yang berbeda.
    Waktu yang berjalan tidak menjadikan kekasihnya seperti sosok yang ada dalam impian Perempuan Ketiga di masa kecil. Pun, waktu juga tidak menjadikan Perempuan Ketiga tumbuh selayaknya sosok wanita dalam mimpi basah si lelaki. Sayangnya, masa di antara masa lalu dan masa depan telah menciptakan sebuah ikatan aneh yang mereka aku-aku sebagai cinta.
      Ikatan di antara Perempuan Ketiga dan lelakinya hanya muncul ketika keduanya berada di kamar yang sama. Kamar adalah wahana tanpa batas yang membawa keduanya kembali pada masa lalu - tempat dimana keduanya belum menemukan perbedaan. Dengan meninggalkan dunianya masing-masing, mereka bisa menciptakan semestanya sendiri.
     Dalam semesta yang mereka ciptakan di dalam kamar, mereka meruntuhkan segala perbedaan pola pikir dan aturan hidup yang memisahkan mereka. Semesta yang hanya bisa terjadi ketika seorang wanita ditempatkan bersama lelaki yang tepat. Semesta yang tidak memiliki waktu. Semesta yang mengijinkan mereka berbuat tanpa batas.
        Hanya saja semesta tak berbatas itu dibatasi oleh sebuah kamar.
      Semestanya pun akan runtuh ketika satu dari mereka meninggalkan kamar itu. Padahal mereka masih butuh makan dan segala urusan hidup yang hanya bisa didapat dari luar kamar, maka mereka harus rela menghancurkan semesta untuk tetap bertahan hidup.
      Ya. Segala urusan kehidupan justru berada di luar sana. Di luar kamar, tempat yang mampu membuat Perempuan Ketiga menggigil ketakutan melihat prianya tumbuh di lingkungan yang berbeda, pola pikir yang berbeda, aturan yang berbeda, gaya hidup yang berbeda.
        Biar lelakiku saja yang mencari uang dan makan. Aku akan menjaga kamar ini agar semestanya tetap utuh.
        Lelakinya pun pulang dari pergi mencari makan. Pakaiannya bau bau-bauan aneh yang membuat Perempuan Ketiga mual, kemudian dilucutinya pakaian itu supaya bisa membangun kembali semesta yang sudah setengah runtuh terkikis dunia luar kamar.
         Perempuan itu tidak lagi pernah keluar kamar.
         Di dalam kamar. Menunggu lelakinya pulang. Entah apa yang dilakukan di luar kamar.



Oktarini, 2015

No comments:

Post a Comment