Aku ingin membawamu ke dalam ruang
penuh dengan sajak hingga tenggelam
Karena sering kali kita hanya bertemu dalam kata
tapi aku tenggelam hanya pada kata-katamu
Dalam sebuah ruang tanpa sudut dan tak berujung
kita ditekan kalimat yang makin berterbangan
Huruf-huruf makin berhamburan hingga terus berhimpitan
Matamu berhamburan ke mataku sampai badan
Lubang dalam mataku belum hilang
bila kau masih ingin pulang
Karena aku ingin ruang ini menjadi pelarian kita
Huruf-huruf dari mulutku membentuk tawa
Ketika sajak keluar dari mulutmu berlarian mencium pipiku
Udara di antara kita yang tadinya sempit kini sudah mengembang
huruf O dimana-mana dan tumbuh besar mengisi ruang tanpa sudut dan tak berujung
Sebab ini kita bercinta hanya dalam selembar kertas
atau dalam sajak hingga melahirkan jutaan huruf
Jarum jam berguling-guling dan aku makin berlubang
Seperti huruf O yang makin berdesakan dalam ruang kita
Beratus-ratus aku menulis kecup dan beribu-ribu kata bercinta
belum juga gesekan kulitmu mengisi tubuhku
Hanya kalimatku yang menyentuh bibirmu, meluncur dari jarak kurang dari satu jengkal
Tapi kita di dalam ruang tanpa sudut dan tak berujung
Tidak ada bilik milik berdua untuk membangun sentuhan yang nyata
Melalui sajak yang saling kita lemparkan
Siapa cepat ia menang dalam
pertarungan menghitamkan warna putih pada huruf O
Yang makin berhaburan menyela tubuh kita di ruang tanpa sudut dan tak berujung ini
Oktarini, 2015
Untuk media sosial yang mendekatkan jarak, walau sedikit

No comments:
Post a Comment